
Perkenalkan, novel baru saya, berjudul “Lelaki di Panggung Sandiwara” sudah launching dan bisa di order selama masa promosi di detakpustakatoko.com atau ke ig tokobuku_sharot dengan harga cukup RP.50.000 saja. Ready stok saat ini 15 eksemplar dan sisanya pembaca bisa pre order.
Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, novel baru ini menceritakan tentang trauma si tokoh utama bernama Alzam yang kesehariannya ia tinggal bersama adik yang masih kecil dan ibunya. Sepanjang sepengetahuannya, traumanya ini sangat mempengaruhi kehidupannya dan termasuk kehidupan pekerjaannya. Bergulat di antara profesionalitas kerja dan trauma yang menghantui, tentu bukan hal mudah.
Alzam tentu tak sendiri, ada teman-teman yang hadir membangkitkan semangatnya, walau awalnya mereka tak tahu mengenai traumanya Alzam. Lalu, bagaimana mereka mengetahuinya? Tentu tidak sengaja melalui sebuah peristiwa berulang yang mereka lihat sediri Alzam melakukannya. Peristiwa ap sih ? Beli saja novel baru dari Sarahhida melalui ig tokobuku_sharot atau bisa melalui detakpustakatoko.com.
Latar belakang penulisan novel “Lelaki di Panggung Sandiwara”
Kesibukan sebagai ibu rumah tangga yang berkutat dengan antar jemput anak sekolah, perbekalan sekolah, kebersihan rumah dan berbagai urusan domestik rumah tangga yang jika saya pikirkan sekali lagi, sehari 24 jam rasanya kurang, tidak kurangnya sering membuat saya kelelahan baik secara mental dan fisik. Walaupun, awalnya tidak pernah berniat menulis novel, pada akhirnya selesai juga karya pertama saya ini. Soal tulis menulis, saya sudah biasa menulis artikel di IDNTIMES, suara.com dan rasa-rasanya temanya serius sekali.
Saya butuh sesuatu yang agak longgar, tidak membuat saya terlalu serius dan pilihan itu jatuh pada menulis novel. Jadilah novel pertama saya, Lelaki di Panggung Sandiwara dan nama pena saya Sarahhida.
Hal-hal yang mempengaruhi novel “Lelaki di Panggung Sandiwara”
Sebagai penulis novel baru, pada karya pertama saya ini, beberapa hal mempengaruhi saya secara pribadi. Pertama sampul dengan nuansa matahari senja yang keemasan dan siluet wajah pria dan pohon adalah permintaan khusus saya kepada penerbit detak pustaka berhubung saya melukis hal serupa. Jadi, kenapa tidak saya jadikan inspirasi sampul novel Lelaki di Panggung Sandiwara.
Sejak kecil, saya terbiasa melihat orang-orang sekitar saya dengan berbagai trauma yang mereka hadapi. Entah bagaimana saya bisa secara kebetulan melihat hal-hal seperti ini. Namun demikian, saya baru mengetahuinya setelah dewasa bahwa itulah yang disebut trauma dan ada banyak macamnya. Karena terbiasa melihatnya, sedikit banyaknya pengalaman ini menginspirasi saya dalam novel pertama ini.
Selain itu, saya seringkali bertanya-tanya pada diri sendiri seberapa pengaruhkah adegan-adegan sensual pada sebuah karya? Apakah tanpa adegan-adegan sensual sebuah karya jadi buruk? Saya tidak sependapat dengan adegan-adegan seperti itu, karena saya pikir hal-hal tersebut kurang sesuai untuk adat timur. Jadilah, novel saya ini walau ada sisi percintaanya, tidak menampilkan adegan-adegan sensual seperti itu. Saya berusaha menampilkan sisi romantisme, tanpa adegan sensual atau bahasa-bahasa terlalu vulgar. Apakah berhasil? Beli saja dulu novelnya.
Harapan saya, semoga novel ini bisa menghibur pembaca se-Indonesia, menjadi best seller novel (aaamiiin aaamiiin aaamiiin Ya Allah kabulkan) dan juga bisa menginspirasi siapapun yang punya trauma untuk kembali bangkit.

Novel Baru, berjudul “Lelaki di Panggung Sandiwara”
Belajar dari Buku Kesehatan Mental Anak, Don’t be Angry Mom
Cara Upload Artikel di Kompasiana Ramah SEO
Novel Kehidupan tentang Lelaki di Panggung Sandiwara
Pedoman Format Penulisan Artikel IDN TIMES
Buku Islamic Parenting: Dont be Angry Mom