
Disadari atau tidak, kesehatan mental anak bisa dipengaruhi dari cara orang tua memperlakukannya. Misalnya, anak yang memiliki orang tua pemarah akan beranggapan kemarahan sebagai suatu hal yang biasa dan boleh dilakukan dengan cara apapun sebagaimana ia melihat orang tuanya marah-marah, (dalam buku Don’t be Angry, Mom, hal 17).
Untuk mengetahui apakah anak tertentu atau anak kita mengalami gangguan dengan kesehatan mentalnya, tentu ada beberapa indikatornya. Orang tua harus waspada jika hal ini terlihat pada anak. Namun demikian, jangan lupakan untuk selalu berkonsultasi dengan ahlinya.
Ciri-ciri Kesehatan mental anak terganggu
Emosi dan perilaku
Terganggunya mental anak, salah satu indikatornya meliputi perubahan emosi dan perilaku yang ekstrem, seperti sering marah atau menangis secara berlebihan dan intens, murung, emosi mudah meledak-ledak, agresif, rendah diri dan lain sebagainya.
Adapun perilaku yang ditampakkan, misalnya menarik diri dari pergaulan teman sebayanya, sosial atau lingkungan lainnya, perilaku menyakiti diri sendiri atau orang lain saat marah seperti membenturkan kepala atau memukul, mogok makan, penurunan nilai akademik di sekolah secara drastis, juga gangguan pola tidur dan makan yang berlangsung lama dan terus-menerus.
Gejala Fisik akibat kesehatan mentak anak terganggu
Sebagaimana dituliskan dalam buku “Don’t be Angry, Mom” bahwa anak yang sering dimarahi orang tuanya akan mengalami gangguan psikis, dalam hal ini berarti kemarahan orang tua bersifat destruktif bukan?
Namun demikian, hal yang jarang disadari orang tua bahwa kemarahan orang tua yang destruktif diam-diam menimbulkan penyakit fisik pada anak. Bukan karena anak tersebut dipukul atau disakiti fisiknya oleh orang tua, melainkan psikis yang terganggu berkorelasi dengan gangguan kesehatan fisiknya. Misalnya, menyebabkan penyakit jantung lelah dan dispepsia, semacam stres akut yang menyebabkan lambung lebih sensitif terhadap asam (halaman 40).
Orang tua pemarah juga tak lepas dari risiko penyakit
Menariknya, buku ini seolah membenarkan kata-kata yang sering dijadikan candaan dalam keseharian kita bahwa, “Jangan marah-marah nanti cepat tua, jangan marah-marah nanti darah tinggi.” Siapa sangka, ternyata kata-kata ini dapat dibenarkan secara medis.
Diambil dari halaman 44 buku Don’t be Angry, Mom, bahwa orang tua pemarah juga tidak lepas dari risiko penyakit fisik, misalnya tekanan darah tinggi, serangan jantung, penurunan fungsi paru dan lain sebagainya. Masih banyak sekali macam penyakit akibat marah-marah ini, tapi tidak dapat saya jelaskan satu persatu, ada baiknya baca bukunya untuk lebih detilnya.
Contoh kasus orang tua pemarah dari kisah nyata
Suatu ketika, di suatu pagi yang cerah, saya pergi mengantre untuk membeli nasi uduk. Tidak lama, datanglah seorang wanita dengan anaknya yang kurang lebih saat itu berusia 5 tahun. Karena lama mengantre, si anak mulai bosan dan merengek minta pulang. Tahu apa yang dilakukan sang ibu? “Sudah dibilangin tadi ga usah ikut, go****!!” Tanpa malu-malu atau khawatir orang lain mendengarnya, ia mengatakannya dengan suara lantang. Juga, barangkali tanpa rasa bersalah (hati orang siapa yang tahu?) ia membiarkan anaknya menangis.
Hmmm…bagaimana? Pemandangan yang biasa bukan? Apa masa kecilmu mengalami hal-hal seperti ini? Ini loh yang menjadi pembicaraan utama dalam buku ini, bahwa cara orang tua mengekspresikan amarah bisa jadi merusak mental anak, lebih parah lagi jika sampai merusak fisik anak.
Bukan berarti tidak boleh marah sih, boleh banget karena kadang marah ada manfaatnya juga kan, tapi ekspresikan dengan cara yang tepat, tidak merusak fisik dan mental anak. Mau tahu caranya? Baca dong dan Beli bukunya di instagram tokobuku_sharot.

Belajar dari Buku Kesehatan Mental Anak, Don’t be Angry Mom
Cara Upload Artikel di Kompasiana Ramah SEO
Novel Kehidupan tentang Lelaki di Panggung Sandiwara
Pedoman Format Penulisan Artikel IDN TIMES
Buku Islamic Parenting: Dont be Angry Mom
Novel Terjemahan Fantasi Best Seller Witch Bakery